Kamis, 15 Januari 2004

Hajiku - Madinah


Dari Mana Biaya Hajinya.......???????
Mungkin semua umat muslim berkeinginan untuk dapat menunaikan ibadah haji, hal ini juga terlintas dihati kami berdua, dengan bermodal uang 15 juta kami membagi dua untuk dibukakan tabungan haji. Walau tidak tahu rejeki dari mana untuk dapat melunasi porsi haji nanti. Pokoknya buat dulu Tabungan Haji dengan keyakinan bahwa Allah akan memudahkan niat kami. Dengan mendapat bantuan dana talangan haji (yang waktu itu masih ada di setiap Bank) kami akhirnya mendapatkan porsi (alhamdulillah pada tahun 2004 belum antri seperti saat ini dan kembali saya diberi keberuntungan, karena setelah tahun ini Departemen Agama mengeluarkan kebijakan sistem Quota dan antri).

Ketika tiba musim pelunasan tiba, ternyata keyakinan aku terbukti bahwa Allah benar mudahkan segala niat baik kami, dimana pada saat itu tempat aku bekerja tidak disangka-sangka untuk pertama kali mengeluarkan kebijakan pemberian bonus buat pekerjanya,  akhirnya tanpa pikir panjang atau punya keinginan membeli mobil atau betulin rumah rejeki itu saya pergunakan untuk melunasi BPIH . subahanallah akhirnya aku dan suami dapat melunasi BPIH. Dan berarti aku bisa berangkat haji subahanallah... subahanallah... subahallah.

Hari Keberangkatanpun Tiba.

Setelah berbulan-bulan melakukan manasik haji. akhirnya waktu keberangkatan pun tiba. Tantangan terberat lagi yang harus kami lalui untuk menunaikan ibadah ini, yaitu meninggalkan anak-anak yang masih kecil, Walau dengan hati yang sangat berat karena meninggalkan buah hati kami pada saat itu usia anak-anakku Laras 6 tahun dan Novan 3 tahun kami pun berangkat pada tanggal 13 Januari 2004. Kembali dengan keyakinan yang sangat kuat bahwa Allah jua yang akan menjaga mereka, hal ini yang sedikit menentramkan dan memantapkan hati untuk berangkat memenuhi panggilanMu menunaikan Ibadah Haji.

MADINAH

Suasana yang masih gelap gulita kami tiba di maktab di Madinah, Kloter kami adalah Kloter 37 Jakarta, aku dan suami ikut rombongan haji biasa atau reguler dengan KBIH perbankan. Bergabung dalam rombongan yang terdiri ibu, nenek, pasangan suami istri dan suami atau istri yang berangkat tidak berpasangan, aku termasuk jemaah yang termuda  dalam reguku usia 32 tahun.

Belum sempat kami istrirahat kami sudah harus berangkat ke Masjid Nabawi pagi-pagi sekali sekitar pukul 3 pagi, padahal sholat subuh baru akan dilaksanakan pada pukul 6. Udara dingin menusuk tubuh pada saaat itu, kenapa kami harus berangkat pagi-pagi sekali, dikarenakan kami harus bisa masuk sholat di dalam masjid kalau kesiangan maka akan sholat di teras luar masjid dengan kondisi udara yang sangat dingin.

Subhannallah ..Kami takjub akan kemegahan dan keindahan Mesjid Nawabi. dimana ketika sholat tanpa disadari atap2 langit dari masjid terbuka terlihat awan biru seakan-akan Sang Maha Pencipta menyaksikan langsung umatnya sedang berdoa dan bermunajat kepadaNya.

RAUDAH.

Tempat salah satu apabila kita berdoa, maka doa itu akan di ijabah oleh Allah SWT amin. Lokasi juga berdekatan dengan Makam Nabi Muhammad SAW serta mimbarnya. Untuk kaum pria bisa setiap saat dapat berebut untuk dapat sholat di Raudah, sedangkan kaum wanita hanya boleh setelah waktu dhuha. Dengan berbondong-bondong bersama ibu-ibu rombonganku, kami berlari nuju Raudah. Informasi yang kami ketahui bahwa Raudah di tandai dengan karpet berwarna putih. Dengan berdesak-desakan terhimpit kami mencari tempat itu. Subahannallah, akhirnya aku sampai disana... dengan lantangnya Aksar wanita  (penjaga mesjid wanita) berteriak shola.. shola.. shola... dengan air mata berlinang aku sholat 2 rakaat kebahagian yang luar biasa.. berdoa sebanyak-banyaknya mohon ampunan dan kebaikan dimasa mendatang...setelah sholat kami diusir dengan kasar... kami memaklumi karena ribuan orang sudah berebut untuk dapat sholat disana.

Selama di Madina kami melakukan ibadah Sholat Arbain yaitu sholat 40 waktu tidak terputus. Dalam keseharian waktu kami habiskan di sekitar Mesjid Nabawi, mengingat maktap kami yang cukup jauh apabila kami harus pulang setiap sholat selesai, jadi kami datang pada saat akan sholat dzhur dan kembali setelah Badaa Isya, setelah subuh biasanya kami pulang untuk mencuci pakaian. Kami keliling Mesjid Nawabi yang sangat luas sekali.

Ada rumor kalau kita berbuat sesuatu yang salah maka akan ada balasannya.Ada kejadian yang terjadi pada diri saya yaitu ketika suamiku bertanya apakah selesai sholat Asar kita ketemu? Aku menjawab : Nga saya mau didalam Mesjid saja. Kenyataannya adalah saya dan ibu-ibu ingin pisah sejenak dari para suami untuk jalan-jalan dipertokoan di belakang Mesjid Nabawi yang banyak pertokoan emas. Tak disangka dan di duga sepanjang kami keluar mesjid dan dipertokoan kami di goda oleh pria-pria arab yang menyebalkan, sampai-sampai kacamata hitamku diambilnya. Saya amat ketakutan sekali gimana nanti bilang sama suami perihal kacamata ini, kalau bilang hilang berarti berbohong, sekali berbohong maka kita akan membuat kebohongan lainnya. Astagfirullahalazim..kami kembali ke mesjid dengan ketakutan. Dengan banyak membaca istiqfar kami kembali ke mesjid. Tiba-tiba ada yang memanggil Endonesia..ibu..ibu.. Endonesia... kami berbalik ternyata salah satu dari pria ditoko mengembalikan kacamata hitamku. Alhamdulilah, tapi permasalahan belum selesai.... tak terduga kami bertemu dengan para suami yang sedang diluar, mereka kaget melihat kami keluar mesjid.. tanpa pikir panjang aku langsung mencium tangan suamiku dan meminta maap. Yang mungkin sampai saat ini dia tidak menyadari kenapa aku mencium tangannya. 

Setelah menyelesaikan Arbain kami siap-siap untuk berangkat ke Kota Mekah. Badaa sholat Magrib dengan menggunakan bis kami menuju Bir Ali, tempat miqat Umroh wajib. Perjalanan yang kami lalui cukup jauh dan sekeliling yang kami lihat adalah gurun pasir. Ada kejadian juga dalam perjalanan ini. Setelah kami meninggalkan Bir Ali dan akan menuju kota Mekah. Kami sudah menggunakan Ihram dan berarti semua rukun Ihram sudah berlaku, di dalam bis kami hanya mengumandangkan Labaik alluhuma Laibaik .. laibaik la syarikalabaik.. innalhamda wa'nikmatalakawalmulk...

Ditengah talbiah berkumandang terdengar suara keributan dibangku belakang bis. Nampaknya beberapa bapak-bapak sedang beradu mulut (bisa dikatakan bertengkar) kami semua kaget mengingat kami sudah menggunakan pakaian ihram, tiba-tiba bis yang kami kendarai berhenti ditengah padang gurun pasir yang pada saat itu angin sangat kencang seakan-akan badai pasir. Jelas kami bingung dan takut apa yang akan dilakukan oleh si supir. Apa dia ingin memogok dan meminta uang dari kami, hal ini infonya sering terjadi. Dengan bahasa arab yang terbatas ketua regu kami bertanya kenapa berhenti dan apa maunya, dia bilang bis betul-betul rusak. Dan kami harus menunggu sampai bis pengganti datang. Cukup lama bis pengganti akhirnya datang, kami keluar bis ditengah badai pasir yang cukup besar. Untuk pindahnya saja kami sudah susah karena angin yang cukup besar dan pasir yang berterbangan. Beberapa diantara kami menghimbau kepada bapak-bapak yang tadi beradu mulut untuk beristigfar dan bertobat, sehingga melancarkan pejalanan kami kembali menuju kota Mekah Al Mukarohmah.

to be continued... Kota Mekah